Sudah merupakan dinamika kehidupan adanya senang, susah, keberhasilan dan kegagalan. Manusia sempurna seperti para rasul pun mereka pernah mengalami keberhasilan dan kegagalan dalam berjihad menegakkan agama dan keadilan, seringkali kita gagal dan pernah juga berhasil dalam mencapai tujuan, hal tersebut sudah menjadi sunnatullah.
Kemenangan atau keberhasilan merupakan ketetapan Allah SWT, untuk mencapai kemenangan tersebut membutuhkan unsur manajemen seperti perencanaan yang baik, pelaksanaan yang dilaksanakan dengan sungguh – sungguh, dan dalam proses untuk mencapai keberhasilan dari langkah pertama hingga langkah terakhir setiap langkahnya merupakan ketetapan Allah.
Dalam al-quran surah al- Baqarah ayat 58 dikisahkan dalam Ibnu Katsir, ketika bani Israail memperoleh kemenagan dan mendapat pertolongan Allah setelah tersesat di gurun Sahara diperintahkan oleh allah SWT untuk memasuki Baitul Maqdis dengan cara bersujud dan sambil mengucapkan kata “ Bebaskanlah kami dari dosa “ tapi dikatakan dalam ayat tersebut bahwa mereka membangkang dan melanggar perintah Allah SWT, bahakan mereka menggantinya dengan memasuki Baitul Maqdis sambil ngesot dan mengatakan “ Habbah Fii Sya’rah” (Biji dalam rambut) mereka lupa bahwa kemenangan tersebut merupakan anugrah dari Allah SWT, dan mereka telah berbuat dzolim terhadap diri mereka sendiri. kemenangan tersebut secara hakikat menjadi kegagalan dan kekalahan bagi diri mereka.
Kerika rasullah berhasil memperoleh kemenangan atas kota Mekah beliau semakin Tawadhu (rendah diri) kepada Allah SWT bahkan beliau langsung mandi dan berwudhu mengerjakan shalat delapan rakaat.
Dari kedua kisah ini ada perbedaan dalam menyikapi keberhasilan memperoleh kemenangan yang menjadi ukuran dari kemenangan sejati atau kegagalan diri. kemenangan sejati adalah keberhsilan atau kegagalan yang semakin mendekatkan diri pada Allah dengan kebersilan atau kegagalan tambah besyukur dan memperoleh ilmu yang banyak sebagi evaluasi dari kegagalan atau keberhasilan.
Dunia merupakan tempat untuk memeperoleh kemenagan sejati yaitu mendapatkan ridho-Nya di dunia dan di akhirat nanti. Jadi apa pun yang terjadi dengan ketatapan Allah bagi diri, bangsa dan negara ini, yang terpenting bagi kita adalah memantapkan tauhid, bersungguh – sungguh (Jihad) dengan diri dan harta kita di jalan Allah dan berhijrah makaani atau Ma’anawi.
Wallahu a’alam Bish-showab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar