JAJANGKUSNADI-PEUNDUY-GARUT Jalani hidup dengan tidak ada harapan, cinta, ketakutan, dan pengabdian selain pada Allah Swt, Hidup ini indah jika seperti itu tapi hasrat duniawi membelengguku.
Kamis, 20 Oktober 2011
Etika, Apa…….???
Etika (Yunani Kuno: "ethikos", berarti "timbul dari kebiasaan") adalah cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab.
Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan kita. Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk itulah diperlukan etika, yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.
Secara metodologis, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etika. Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah laku manusia. Akan tetapi berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut pandang normatif. Maksudnya etika melihat dari sudut baik dan buruk terhadap perbuatan manusia.
Etika terbagi menjadi tiga bagian utama: meta-etika (studi konsep etika), etika normatif (studi penentuan nilai etika), dan etika terapan (studi penggunaan nilai-nilai etika).
Etika Teologis merupakan dasar pijakan nilai yang harus kita bangun, dengan itu etika dibangun pada sudut pandang yang sama sehingga tidak terjadi perdebatan dan kesalah pahaman dalam menerapkan penilaiaan etika seseorang.
Pada kenyataanya terkadang kata “Etika” bisa disalah gunakan untuk hal-hal tertentu, padahal etika dibangun dari nilai-nilai yang melekat pada kehidupan masyarakat yaitu agama dan budaya.
Melangggar nilai-nilai agama dan budaya berarti telah melnggar etika. Etika adalah hal yang nisbi maka kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Wallahu ‘Alam Bish-showab
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar